logo
Short Landscape Advertisement Short upperspace sumpah pemuda
News

3 Calon Lokasi Smelter Freeport: Gresik, Sumbawa, dan Papua

3 Calon Lokasi Smelter Freeport: Gresik, Sumbawa, dan Papua
Dalam Framework Agreement yang ditandatangani Freeport McMoRan Inc (FCX) dengan pemerintah pada Agustus 2017 lalu, Freeport sepakat akan memenuhi kewajiban membangun fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral (smelter) di Indonesia.

Menurut perjanjian, pembangunan smelter harus diselesaikan dalam 5 tahun. Biaya investasi untuk pembangunan smelter ditaksir sekitar USD 2 miliar. Ada 3 calon lokasi smelter yang dijajaki, yaitu Gresik, Sumbawa, dan Timika. Masing-masing lokasi punya kelebihan dan kekurangan.

PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum yang kini menguasai 51 persen saham PT Freeport Indonesia (PTFI) menyatakan adanya rencana mengembangkan industri pertambangan dari hulu sampai hilir di Timika, Papua.

Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, ada sumber energi yang cocok untuk smelter di Timika, yaitu Sungai Urumuka. Kata Budi, sudah ada produsen listrik swasta yang mau membangun pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dengan kapasitas 500 MW di Sungai Urumuka.

Dengan listrik murah dari PLTA, biaya pemurnian tembaga akan jadi sangat efisien. PLTA ini rencananya dibangun sesudah ada kepastian perpanjangan izin operasi untuk PTFI.

"Saya baru tahu, ada pengusaha bilang sudah bikin FS (feasibilty study) di Urumuka di Timika, bisa bangun 2.000 Megawatt (MW). Mereka sudah siap FS untuk 500 MW dan mau jual listriknya ke Freeport karena Freeport masih masih pakai pembangkit diesel dan batu bara. Kalau pakai PLTA, turun biayanya karena lebih murah dan lebih ramah lingkungan. Tapi Freeport belum mau beli karena belum dapat perpanjangan," ujarnya kepada kumparan, beberapa waktu lalu.

Selain ketersediaan sumber energi, Budi menambahkan, pembangunan smelter di Timika juga bisa efisien karena dekat dengan sumber bijih tembaga.
"Smelter itu butuhnya cuma dua, yaitu ore (bijih tembaga) dan listrik. Ore tembaga sudah ada di situ. Jadi kalau kita mau jual tembaga, kalau mau bikin produk turunan jadi copper block, atau copper table yang dibutuhkan mobil listrik, itu bisa dibangun di sana. Murah karena barangnya ada di sana dan sumber energinya besar," ia menjelaskan.
Namun, ketersediaan infrastruktur pendukung dan lahan yang belum jelas mempersulit pembangunan smelter di Timika. Masalah yang sama juga ada bila Freeport ingin membangun smelter di Sumbawa.