logo
Short Landscape Advertisement Short
Bersama Kita Membangun Kemajuan Industri Smelter Nasional
News

Mendorong kinerja industri semen

Kinerja penjualan semen domestik pada 1H2019 menurun. Penjualan semen domestik pada 1H19 kontraksi sebesar -1,82% yoy atau mencapai 29,5 juta ton. Nilai itu jauh lebih rendah dibandingkan 1H18 yang tumbuh 3,59% yoy. Penyebab kontraksi penjualan semen ini adalah aktivitas konstruksi yang melambat karena periode menjelang pemilu dan periode liburan hari raya Idul Fitri.

Kami memperkirakan kinerja penjualan semen domestik pada 2019 tumbuh melambat dibandingkan dengan 2018. Hal tersebut karena pertumbuhan sektor konstruksi melambat, baik infrastruktur maupun properti. Pertumbuhan sektor konstruksi pada 1H19 sebesar 5,8% yoy, lebih rendah dibandingkan 1H18 sebesar 6,53% yoy.

Pertumbuhan belanja infrastruktur dalam APBN 2019 juga melambat. Sementara itu, pada segmen properti diperkirakan masih tumbuh perlahan pada 2019 sehingga belum dapat mendorong permintaan semen tahun ini. Sebagai informasi, komposisi penjualan semen terbesar adalah semen kantong (74% dari total penjualan semen) yang digunakan untuk sektor properti.

Perlambatan penjualan semen di tengah maraknya pembangunan pabrik semen menyebabkan kondisi overcapacity semakin meningkat. Pada 2012, terdapat overcapacity hanya sebesar 2,7 juta ton. Angka itu terus meningkat hingga pada 2018 terjadi overcapacity semen 38,6 juta ton.

Pada tahun ini pembangunan beberapa pabrik semen diperkirakan selesai, sehingga total kapasitas semen akan mencapai lebih dari 110 juta ton. Sementara, penjualan semen kami prediksi hanya tumbuh di kisaran 2%. Akibatnya angka overcapacity akan meningkat. Kondisi ini dapat menyebabkan perang harga karena banyaknya produk semen di pasar, sehingga produsen semen harus melakukan efisiensi.

Ke depannya, kami perkirakan kelebihan pasokan industri semen akan terus membayangi karena penambahan kapasitas tidak diimbangi pertumbuhan penjualan semen. Selain itu, pemerintah belum berencana melaksanakan pembatasan investasi industri semen, sehingga kemungkinan overcapacity masih berlanjut.

Sebagai contoh, perusahaan asal Tiongkok Hongshi Holdings berencana membangun pabrik semen di Jepujepu, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur pada 2019. Adapun nilai investasi Hongshi Holdings sekitar US$1 miliar–US$2,1 miliar.

Salah satu strategi yang dapat dilakukan perusahaan semen untuk mengatasi overcapacity adalah meningkatkan ekspor. Proporsi ekspor semen hanya 8,61% dari total konsumsi semen pada 1H19. Secara historis, volume ekspor semen hanya meningkat 2,1 juta ton selama 10 tahun terakhir, yakni dari 4,3 juta ton pada 2008 menjadi 6,4 juta ton pada 2018. Pertumbuhan ekspor semen terus meningkat dari 59,2% yoy pada 2016 menjadi 92,8% pada 2018. Namun, pada 1H19 pertumbuhan ekspor semen hanya 4,42% yoy, jauh di bawah 1H18 sebesar 134,3% yoy. Ekspor terbesar semen adalah jenis klinker, yakni 75% dari total ekspor semen.

Sementara itu, negara tujuan ekspor semen terbesar adalah Bangladesh, Australia, dan Sri Lanka. Lebih jauh, negara di ASEAN yang merupakan importir terbesar produk semen adalah Filipina dan Singapura. Kedua negara ini dapat menjadi target market ekspor semen Indonesia. Volume impor semen Filipina dan Singapura pada 2018 masing-masing 9,72 juta ton dan 4,38 juta ton.

Sementara itu, ekspor semen dari Indonesia ke Filipina dan Singapura masing-masing hanya 658.000 ton dan 311.000 pada 2018. Peluang pasar ekspor semen ke Filipina dan Singapura masih besar.

Oleh karena itu, pemerintah perlu memberikan insentif dan mendorong ekspor semen ke negara tetangga seperti Filipina dan Singapura. Kerjasama perdagangan antar negara ASEAN, khususnya untuk produk semen, perlu ditingkatkan. Daya saing produk semen perlu ditingkatkan untuk menggenjot ekspor semen.

Untuk mengerek daya saing produk ekspor, pemerintah dapat menurunkan biaya logistik. Strategi lainnya, pemerintah membatasi investasi asing di industri semen.

Dengan demikian, kelebihan pasokan semen dapat dikurangi. Pembatasan investasi asing pada industri semen dapat dilakukan hingga konsumsi semen membaik. Apabila tidak ada pembatasan investasi asing, kami memperkirakan kelebihan pasokan semen terus berlanjut hingga 10 tahun ke depan.♦