logo
Short Landscape Advertisement Short preswapres
Bersama Kita Membangun Kemajuan Industri Smelter Nasional
News

PT Inalum Sarankan Pemerintah Dalam Insentif Fiskal

PT Inalum Sarankan Pemerintah Dalam Insentif Fiskal
PT Inalum atau Indonesia Asahan Aluminium, menyampaikan saran kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM. Dan juga Komisi VII DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) RI supaya mengadakan kebijakan insentif fiskal. Tujuannya yakni, agar mendorong investasi di sektor mineral dan batu bara atau disebut minerba.

Budi Gunadi Sadikin selaku Direktur Utama PT Inalum menuturkan, insentif tersebut tentunya bakal mendorong para pelaku usaha. Untuk melakukan hilirisasi atau nilai tambah dari komoditas minerba. Jika hal itu dilaksanakan, maka pemerintah bisa mendapatkan pajak lebih besar untuk produk hilirnya.

“Toh pemerintah bisa dapat pajak berupa PPN dan Pajak Penghasilan yang jauh lebih besar (lagi) di produk hilirnya,” ujar Budi. Ketika dalam acara Rapat Dengar Pendapat Komisi VII DPR RI di Jakarta, pada Senin, 8 Juli lalu.

Budi pun turut menjelaskan, bahwa Indonesia saat ini kesulitan berkompetisi dengan negara lainnya. Terutama yang terkait pengembangan teknologi sektor minerba. Sebab di negara lain pemerintahnya memberikan subsidi guna pengembangan teknologi. “Teknologi ini sangat susah karena (di) negara lain disubsidi, mereka (jadi) jauh lebih cepat majunya,” kata Budi.

Oleh karena itu, Budi meminta beberapa kementerian yang terkait saling bersinergi guna membantu mengembangkan sektor minerba. Jangan sampai komoditas yang selama ini diekspor malah akhirnya diimpor dari negara lain.
PT Inalum Tengah Usahakan Hilirisasi

Adapun saat ini PT Inalum sudah membangun beberapa hilirisasi, sesuai dengan amanat undang-undang bersama perusahaan yang ada di bawahnya. Contohnya, pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian (Smelter) Grade Aluminia Refinery (GAR) di wilayah Mempawah. Smelter tersebut ditargetkan bakal beroperasi pada tahun 2022.

Proyek itu dikerjakan oleh perusahaan patungan PT Inalum dan Antam, yakni PT Borneo Alumina Indonesia atau BAI. Dengan tujuan untuk mengurangi ekspor mineral mentah serta mengurangi ketergantungan impor bahan baku produksi aluminium.

PT Bukit Asam (Persero) yang juga merupakan anak usaha PT Inalum juga tengah melakukan hilirisasi. Dengan cara membangun pabrik gasifikasi batu bara di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Di pabrik itu batu bara akan diolah menjadi Dimethylether yang bisa menggantikan elpiji. Sehingga dapat mengurangi impor gas.

Selain itu juga mengolah batu bara menjadi urea sebagai pupuk, polypropelene, serta bahan baku plastik. Pembangunan proyek pabrik itu melibatkan kerja sama antara PTBA dengan PT Pupuk Indonesia, Pertamina, serta PT Chandra Asri Petrochemical. []