logo
Short Landscape Advertisement Short ramadhan 1440h
Bersama Kita Membangun Kemajuan Industri Smelter Nasional
News

Perang dagang bisa bawa harga tembaga ke bawah US$ 6.000 pekan ini

Perang dagang bisa bawa harga tembaga ke bawah US$ 6.000 pekan ini
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Banyaknya komoditas yang terkena dampak negatif dari eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China, juga teras pada pergerakan harga komoditas tembaga.

Berdasarkan data Bloomberg, per Jumat (10/5), harga tembaga berhasil bangkit naik 0,39% ke level US$ 6.126 per metrik ton. Padahal, pada perdagangan sebelumnya (9/5), harga tembaga sempat anjlok 0,75% ke level US$ 6.102 per metrik ton.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengungkapkan, meskipun tembaga sempat mengalami penguatan, namun secara keseluruhan, harganya cenderung masih akan tertekan. Tidak lain tidak bukan, sentimennya masih berasal dari negosiasi perang dagang.

"Memang harga tembaga Jumat (10/5) cukup bagus, tapi kemungkinan besar dalam transaksi malam ini masih akan terkoreksi (13/5)," jelas Ibrahim kepada Kontan.co.id, Senin (13/5).

Menurutnya, dalam dua pekan ke depan akan ada banyak data ekonomi yang akan mempengaruhi sentimen harga tembaga. Di antaranya, rilis kinerja industrial China yang diprediksi mengalami penurunan, begitu juga data perekonomian Jerman yang diyakini akan turun.

Hal tersebut, sekaligus mengindikasikan bahwa ekonomi negara anggota Uni Eropa akan mengalami penurunan, dan secara keseluruhan ekonomi UE akan stagnan.

Ditambah lagi, Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank Sentral AS (The Fed) dalam waktu dekat bakal melakukan pertemuan untuk membahas dampak kesepakatan perang dagang bagi negara dan ekonomi global.

Dengan perkiraan bahwa ekonomi AS tumbuh membaik, Uni Eropa dan China justru memburuk, ini memungkinkan bagi indeks dollar AS untuk semakin perkasa. Akibatnya, sebagian besar harga komoditas akan jeblok, termasuk tembaga.

Ibrahim mengungkapkan bahwa sebelumnya Dana Moneter Internasional (IMF) juga memberikan sinyal jika perang dagang tidak mencapai sebuah kesepakatan, maka imbasnya akan ke kinerja ekonomi global.

"Dengan begitu, harga tembaga relatif mahal karena terimbas penguatan indeks dollar AS. Sehingga banyak pelaku pasar yang saat ini melakukan taking profit dan harga tembaga berpotensi kembali ke bawah US$ 6.000 per metrik ton," ujarnya.

Secara teknikal, bollinger bands dan moving average 40% masih di atas bollinger tengah, artinya masih ada harapan untuk naik. Namun, dilihat dari stochastic, MACD dan RSI yang notabennya 60% negatif, ini mengindikasikan kemungkinan besar tembaga pekan ini akan mengalami penurunan.

Untuk itu, Ibrahim memperkirakan harga tembaga akan bergerak pada kisaran US$ 6.000 per metrik ton hingga US$ 6.130 per metrik ton. Sedangkan untuk sepekan diperkirakan berada pada kisaran support US$ 5.850 per metrik ton, sedangkan resistance di level US$ 6.130 per metrik ton.

"Investor derivatif direkomendasikan untuk taking profit atau sell saat ini, sedangkan bagi mereka yang berinvestasi di saham sektor tembaga, baiknya wait and see menanti keputusan pertemuan perang dagang di Beijing pekan ini," sarannya.

Ibrahim pun tidak menampik, saat negosiasi perang dagang berhasil mencapai kesepakatan di pekan depan, tidak menutup kemungkinan bagi harga tembaga untuk kembali berfluktuatif.