News Update Vale Indonesia (INCO) masih mengkaji Permen ESDM terbaru soal divestasi
News

Vale Indonesia (INCO) masih mengkaji Permen ESDM terbaru soal divestasi

Vale Indonesia (INCO) masih mengkaji Permen ESDM terbaru soal divestasi
Sebesar 20% saham sudah lebih dulu dilepas, dan sisa divestasi 20% bakal dilakukan paling lambat Oktober 2019. Senior Manager Communications Vale Indonesia Budi Handoko berujar, pihaknya tetap berkomitmen atas divestasi tersebut.

Namun, saat ditanya soal dampak dari peraturan baru tersebut terhadap proses divestasi tersebut, Budi masih irit bicara. Begitu pun terkait dengan kemungkinan untuk menerbitkan saham baru atau mengikuti mekanisme lain yang dimungkinkan dalam Permen baru ini, Budi bilang, pihaknya masih melakukan kajian.

“Tentu saja kami harus mengkaji dampak Permen baru tersebut terhadap komitmen ini (divestasi). Soal itu (menerbitkan saham baru, pada pasar modal atau mekanisme lain yang dimungkin dalam Permen baru) kami masih mengkajinya,” ujarnya.

Sementara, menurut Analis Binaartha Sekuritas M. Nafan Aji, jika Vale Indonesia menerbitkan saham baru, hal itu akan memberikan katalis positif sehingga mempengaruhi kinerja harga sahamnya ke depan. Nafan menyebutkan, kondisi di komoditas nikel dunia yang masih cenderung kondusif seiring dengan meningkatnya global demand juga akan menjaga kinerja Vale Indonesia.

“INCO sudah lama bullish, sehingga bisa maintain buy dengan estimasi jangka menengah hingga jangka panjang di level 3.790. Penerbitan saham baru akan memberi katalis positif dengan meningkatnya minat maupun demand,” jelas Nafan.

Pembangunan Smelter

Nafan juga menjelaskan, poin penting mengenai kinerja Vale Indonesia ialah soal ekspansinya dalam membangun pabrik pengolahan di Bahadopi dan Pomala. Adapun pabrik pengolahan saprolit yang merupakan bahan utama pembuatan stainless steel akan dibangun di Bahadopi. Sedangkan pabrik pengolahan limonit yang merupakan bahan utama pembuatan baterai listrik akan dibangun di Pomala.

Sementara menurut Budi Handoko, pabrik pengolahan atau smelter Vale Indonesia masih dalam tahap pemilihan partner yang akan dilanjutkan dengan definitive feasibility study. “Targetnya pada Q1 tahun 2019 kami sudah memilih partner untuk Greenfield projects kami di Bahodopi dan Pomala yang akan dilanjutkan dengan definitive feasibility study” jelas Budi.Ia juga menyebutkan bahwa calon partner Vale Indonesia untuk pembangunan pabrik pengolahan di Pomala adalah Sumitomo Metal Mining. Sementara untuk Bahadopi, calonnya adalah beberapa perusahaan dari Tiongkok dan Jerman. “Calon partner kami di Pomala, Sumitomo Metal Mining. Di Bahodopi ada beberapa perusahaan awal Tiongkok dan Jerman yang belum bisa di-disclose,” ungkapnya.

Soal kinerja produksi dan penjualan terkini, Budi masih belum bersedia membeberkan rinciannya. Namun Budi bilang, untuk penjualan nikel, seluruhnya masih 100% diekspor ke Jepang.

Mengingat PT Vale memiliki Kontrak penjualan nikel jangka panjang dengan Sumitomo Metal Mining dan Vale Canada Limited. “100% ke Jepang. Kontrak dengan Vale Canada juga dikirim ke Jepang,” ujarnya.Karenanya, Budi menyebut, pelemahan rupiah yang belakangan ini terjadi memberikan dampak positif bagi Vale Indonesia. Hal ini mengingat 100% revenue Vale Indonesia ada dalam dollar Amerika Serikat, sedangkan sebagian cost dalam rupiah.

Mengenai produksi, menurut catatan Kontan.co.id, total produksi nikel Vale selama semester I-2018 mengalami penurunan 3,59% menjadi 36.034 ton dibangkan produksi pada semester I-2017 sebesar 37.331 ton. Sementara untuk produksi tahun ini Vale mematok target sebesar 77.000 ton.

Selain diakibatkan adanya penundaan beberapa aktivitas pemeliharaan, penurunan produksi tersebut juga disebabkan oleh tingkat kandungan nikel rata-rata yang lebih rendah selama tiga bulan pertama 2018. “Penundaan aktivitas pemeliharaan hanya berdampak pada Q2. Sedangkan Semester I hanya terkait nikel grade yang mana sudah membaik di Q3,” tandasnya.

Latest News

ESDM Evaluasi Pengajuan Freeport Indonesia untuk Penambahan Kuota Ekspor Konsentrat
JAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah mengevaluasi pengajuan penambahan kuota ekspor konsentrat PT Freeport Indonesia.

PT Freeport Indonesia sebelumnya telah mengajukan penambahan kuota ekspor konsentrat lantaran masih ada konsentrat yang tersisa di gudang penyimpanan (stockpile) dari hasil produksi tahun lalu. Namun demikian, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM sedang mengevaluasi permintaan perusahaan yang kini 51,2% sahamnya dimiliki PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). “Lagi dievaluasi,” ujar Dirjen Minerba Bambang Gatot Ariyono di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (13/6).

Direktur Pengusahaan dan Pembinaan Mineral Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Yunus Saefulhak sebelumnya menegaskan, kalaupun Freeport Indonesia ingin mengajukan penambahan kuota eskpor konsentrat maka perusahaan harus mengubah Rencana Kerja dan Anggaran Biayanya (RKAB).

Menurut Yunus, PT Freeport Indonesia tidak mungkin meningkatkan kapasitasnya, sebab masih tahap persiapan development perubahan dari surface miningke total underground.

Untuk diketahui, PT Freeport Indonesia mendapatkan kuota ekspor pada Februari lalu hanya sebanyak 198.282 ton konsentrat. Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dengan kuota pada tahun sebelumnya yang mencapai 1,25 juta ton konsentrat.

Produksi PT Freeport Indonesia pada tahun ini memang akan turun signifikan seiring dengan selesainya penambangan di tambang terbuka Grasberg dan beralih sepenuhnya ke tambang bawah tanah. PT Freeport Indonesia memperkirakan produksi bijih pada tahun ini aka berada kisaran 100.000 ton per hari, turun dibandingkan kondisi normal di kisaran 180.000 ton per hari.

Hingga kuartal I/2019, produksi bijih PT Freeport Indonesia masih berada di level 150.500 ton per hari. Namun, rata-rata tersebut akan turun setelah tambang terbuka berhenti berproduksi pada pertengahan tahun ini.

Berdasarkan proyeksi dari Freeport-McMoRan inc., produksi bijih pada tahun ini akan berada pada level 114.000 ton per hari. Rendahnya produksi tersebut akan berlanjut hingga 2020 dengan 100.000 ton bijih per hari dan baru mulai naik pada 2021.
15 Perbankan Siap Biayai Pembangunan Smelter Freeport15 Perbankan Siap Biayai Pembangunan Smelter Freeport
Guna membiayai pembangunan pabrik pemurnian dan pengolahan (smelter), saat ini PT Freeport Indonesia (PTFI) tengah menjajaki pinjaman dari perbankan
PT Freeport Indonesia Menuju Era Baru Dengan 51 Persen Saham Dikuasai PemerintahPT Freeport Indonesia Menuju Era Baru Dengan 51 Persen Saham Dikuasai Pemerintah
Pasca pengalihan saham Pemerintah sebesar 51 persen, PT Freeport Indonesia masih memiliki pekerjaan yang harus dilaksanakan demi meningkatkan produktivitas dan keuntungan
Member PT Virtue Dragon Nickel Industry
Member PT Kalimantan Surya Kencana
Member PT Hengtai Yuan
Member PT Indotama Ferro Alloys
Member PT Smelting
Member PT Batutua Tembaga Raya
Member PT Bintang Smelter Indonesia
Member PT Meratus Jaya Iron  Steel
Member PT Cahaya Modern Metal Industri
Member PT Century Metal indo
Member PT Delta Prima Steel
Member PT Fajar Bhakti Lintas Nusantara
Member PT karyatama Konawe Utara
Member PT Refined Bangka Tin
Member PT Gebe Industri Nikel
Member PT Huadi Nikel Alloy
Member PT Sulawesi Mining Investment
Member PT Central Omega Resources Indonesia
Member PT Kasmaji Inti Utama
Member PT Monokem Surya
Member PT Tinindo Internusa
Member PT Macika Mineral Industri
Bersama Kita Membangun Kemajuan Industri Smelter Nasional
Switch to Desktop Version
Copyright © 2015 - AP3I.or.id All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website by IKT