logo
Short Landscape Advertisement Short idul fitri 2020
Bersama Kita Membangun Kemajuan Industri Smelter Nasional
News

Soal Kabar Investasi Tesla, Ini Pandangan Vale Indonesia (INCO)

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten pertambangan mineral, PT Vale Indonesia Tbk., menilai kabar potensi perusahaan mobil listrik global Tesla untuk membangun pabrik baterai kendaraan listrik di Indonesia harus disikapi secara hati-hati.

Direktur Keuangan Vale Indonesia Bernardus Irmanto mengatakan bahwa kabar Tesla akan membangun pabrik dan menjalin kerja sama dengan penambang nikel dalam negeri membuat industri nikel Indonesia semakin menarik untuk diperhatikan.

Kabar itu pun harus ditanggapi secara positif tetapi juga dengan penuh kehati-hatian.

Menurut Irmanto, di satu sisi, kabar itu menjadi kesempatan besar bagi Indonesia untuk mengambil posisi strategis dalam percaturan produksi baterai mobil listrik, atau bahkan produksi mobil listrik sendiri.

Indonesia juga memiliki kesempatan untuk mengoptimalkan pendayagunaan dan pemanfaatan bijih nikel yang cadangannya begitu besar.

Apalagi, pemerintah telah mengeluarkan aturan terkait harga patokan mineral (HPM) nikel untuk saprolite dan dalam waktu dekat diharapkan keluar HPM untuk limonite yang bisa diolah di smelter berteknologi High Pressure Acid Leach (HPAL).

Adapun, smelter berteknologi HPAL itu untuk memproduksi intermediate produk Mix Hydroxide Precipitate (MHP) dan Mix Sulphide Precipitate (MSP), yang akan menjadi cikal bakal nickel sulphate atau cobalt sulphate atau bahan baku komponen baterai.

“Namun, di sisi lain issue sustainability dan penambangan yang baik harus tetap dikedepankan menanggapi prospek baik ini,” ujar Irmanto kepada Bisnis, Rabu (18/11/2020).

Adapun, Irmanto juga memberikan catatan terkait pipeline proyek pengolahan bijih nikel di Indonesia yang saat ini lebih banyak fokus untuk menghasilkan ferronickel melainkan produk MHP dan MSP untuk baterai kendaraan listrik.

Dia mengatakan bahwa investasi pabrik berteknologi HPAL cenderung padat modal dan secara lingkungan jauh lebih menantang dibandingkan dengan membangun pabrik smelter FeNi dan NPI.

“Namun, kalau project HPAL yang sedang dilaksanakan saat ini bisa diselesaikan dan dioperasikan dengan baik, saya rasa akan lebih banyak lagi investasi HPAL di Indonesia,” papar Irmanto.

Adapun, emiten berkode saham INCO itu berencana untuk membangun smelter nikel HPAL di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, yang ditargetkan rampung pada 2025 dengan total investasi sekitar US$2,5 miliar.

Irmanto menjelaskan bahwa nilai investasi proyek itu dapat berubah dan dipastikan pada saat final investment decision (FID) yang ditargetkan pada kuartal I/2021.