logo
Short Landscape Advertisement Short ff
Bersama Kita Membangun Kemajuan Industri Smelter Nasional
News

Freeport Batal Join, Gimana Nasib Smelter Perusahaan China?

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Freeport Indonesia memastikan tidak jadi bekerja sama dengan perusahaan asal China, Tsingshan Group, untuk membangun smelter tembaga baru di Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara.

Lantas, bagaimana kelanjutan dari rencana pembangunan smelter tembaga Tsingshan ini? Apakah Tsingshan tetap akan melanjutkan pembangunan smelter di Weda Bay ini meski Freeport menyatakan batal bekerja sama?

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ridwan Djamaluddin mengatakan bahwa pihak Tsingshan masih akan tetap melanjutkan proyek smelter tembaga baru ini meski Freeport mundur dari rencana kerja sama ini.

"Tetap," jawab Ridwan kepada CNBC Indonesia, Rabu (21/07/2021), saat ditanya apakah nanti Tsingshan akan tetap membangun smelter di Weda Bay.

Ridwan mengatakan, meski Freeport mundur, Tsingshan akan melanjutkan proyek ini sendiri tanpa mitra lainnya.
Pilihan Redaksi

"Sendiri," ujarnya saat ditanya Tsingshan akan bermitra dengan perusahaan lain atau jalan sendiri membangun smelter di Weda Bay ini.

Sebelumnya, Vice President Corporate Communications PT Freeport Indonesia Riza Pratama menegaskan bahwa Freeport tidak mencapai kesepakatan dengan Tsingshan untuk melakukan kerja sama.

"PTFI tidak mencapai kesepakatan dengan Tsingshan untuk pembangunan smelter," ungkapnya kepada CNBC Indonesia, Jumat (16/07/2021).

Freeport pun pada Kamis (15/07/2021) pekan lalu telah menandatangani kontrak dengan PT Chiyoda International Indonesia untuk kegiatan Engineering, Procurement, and Construction (EPC) proyek smelter Manyar, kawasan industri Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur.

Dengan ditandatanganinya kontrak EPC ini, pembangunan proyek smelter dengan kapasitas pengolahan 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun dan pembangunan fasilitas Precious Metal Refinery (PMR) ini ditargetkan bisa tuntas pada 2023 mendatang.

Adapun produk dari hasil smelter ini yakni sekitar 600 ribu ton katoda tembaga per tahun.

Meski Freeport enggan menyebutkan berapa nilai kontrak EPC dengan Chiyoda ini, namun Direktur Utama MIND ID Orias Petrus Moedak sempat menuturkan bahwa perkiraan nilai investasi untuk pembangunan proyek smelter baru Freeport di Manyar, JIIPE, Gresik ini mencapai US$ 3 miliar.

Sementara proyek smelter yang akan dibangun Tsingshan dikabarkan untuk mengolah 2,4 juta ton konsentrat tembaga menjadi 600 ribu ton katoda tembaga.

Sebelumnya, Tsingshan dikabarkan mau membiayai 92,5% dari nilai proyek smelter tembaga di Weda Bay ini yang diperkirakan membutuhkan biaya sekitar US$ 2,5 miliar. Artinya, bila Freeport menerima tawaran ini, afiliasi Freeport McMoran ini hanya membiayai sekitar 7,5% dari nilai proyek tersebut.

Deputi Investasi dan Pertambangan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Septian Hario Seto mengatakan, rencana kerja sama ini akan menarik buat Freeport karena nanti sebagian besar investasinya akan ditanggung oleh Tsingshan. Freeport hanya butuh investasi sebesar 7,5% dari total proyek.

"Selama ini Freeport bilang tidak profitable (menguntungkan), capex (belanja modal) mahal dan lainnya. Tsingshan punya teknologi, tekan angka capex dan berikan pendanaan capex yang maksimal. Freeport hanya perlu pendanaan sekitar 7,5% dari total proyek," ungkapnya.