logo
Short Landscape Advertisement Short ff
Bersama Kita Membangun Kemajuan Industri Smelter Nasional
News

Harum Energy Targetkan 'Smelter' Nikel Beroperasi Kuartal I-2022

JAKARTA, investor.id – PT Harum Energy Tbk (HRUM) menargetkan smelter nikel bisa beroperasi secara komersial pada kuartal I-2022. Perseroan sudah menggelontorkan investasi sebesar US$ 69 juta untuk membangun smelter nikel tersebut.

Direktur Utama Harum Energy Ray A Gunara menjelaskan, pembangunan smelter nikel ini sudah dimulai sejak akhir 2020. Sedangkan saat ini, smelter nikel tersebut sudah memasuki pembangunan konstruksi terakhir. "Kami harapkan bisa beroperasi komersial pada kuartal I-2022," ujar Ray dalam paparan publik virtual, Selasa (8/6).

Sejauh ini, Harum Energy sudah menggelontorkan investasi sebesar US$ 69 juta untuk pembangunan smelter tersebut. Investasi ini diwujudkan dalam bentuk akuisisi 24,5% saham PT Infei Metal Industry melalui PT Tanito Harum Nickel. "Ke depan kami tidak menutup kemungkinan bisa meningkatkan kepemilikan di Infei Metal Industri asalkan valuasinya setara dengan yang dilakukan di investasi pertama," papar dia.

Selain berinvestasi di Infei, Harum Energy juga berinvestasi di perusahaan nikel lainnya, yakni PT Position senilai US$ 80,32 juta. Perseroan memborong 24.287 saham milik Aquila Nickel Ptd Ltd atau setara 51% dari saham Position.

Tahun ini, Position belum beroperasi secara komersial. Namun pada semester II-2022, Harum Energy menargetkan Position bisa beroperasi secara komersial sehingga laporan keuangannya bisa dikonsolidasikan ke dalam Harum Energy.

Secara total, Ray mengungkapkan, perseroan sudah menggelontorkan dana sebesar US$ 149 juta untuk berinvestasi di nikel. Dana ini belum termasuk investasi tambahan di Nickel Mines pada Mei 2021 sebesar AUS$ 45,03 juta. Dengan tambahan investasi ini, Harum Energy sudah memiliki 6,73% kepemilikan saham di Nickel Mines.

Sebelumnya, sepanjang 2020, Harum Energy sudah membeli 118,17 juta saham di Nickel Mines dengan total transaksi sebesar AUS$ 76,28 juta atau setara US$ 53,49 juta. Dengan pembelian saham ini, Harum Energy memiliki 4,7% saham di Nickel Mines.

Pembelian saham perusahaan nikel ini merupakan bentuk usaha perseroan untuk mendiversifikasi bisnis di luar batu bara. Perseroan sengaja memilih nikel karena memiliki karakteristik tambang yang hampir sama dengan batu bara. "Selain itu, secara jangka panjang, nikel juga jauh lebih menarik dibandingkan komoditas lain," terang dia.

Namun untuk saat ini, bisnis batu bara masih menjadi kontributor utama terhadap laba Harum Energy. Apalagi harga batu bara tahun ini meningkat cukup tinggi karena meningkatnya permintaan dari negeri tirai bambu, Tiongkok.

Ray memprediksi, bisnis nikel baru bisa berkontribusi sebanding dengan batu bara pada tahun 2023. Hal ini seiring dengan beroperasinya industri smelter nikel secara penuh pada tahun 2023.

Adapun hingga kuartal I-2021, Harum Energy membukukan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 17,61 juta. Nilai ini meningkat sekitar 2.044% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$ 821,37 ribu.

Harum Energy bisa membukukan peningkatan laba, meski pendapatan pada tercatat menurun 6,71% dari US$ 61,19 juta pada kuartal I-2020 menjadi US$ 57,08 juta pada kuartal I-2021. Namun demikian, Harum Energy memperoleh pendapatan lainnya sebesar US$ 9,27 juta pada kuartal I-2021.

Perseroan juga mencatat peningkatan aset sebesar 19,36% menjadi US$ 595,26 juta pada kuartal I-2021. Sebelumnya pada akhir 2020, Harum Energy membukukan aset sebesar US$ 498,7 juta. Peningkatan aset ini ditopang oleh aset lancar sebesar US$ 195,6 juta dan aset tidak lancar sebesar US$ 399,65 juta.

Sementara liabilitas juga ikut meningkat menjadi US$ 118,78 juta. Peningkatan liabilitas ini karena peningkatan liabilitas jangka panjang sebesar US$ 86,74 juta yang berasal dari pinjaman bank sebesar US$ 67,81 juta.