logo
Short Landscape Advertisement Short xmas2020
Bersama Kita Membangun Kemajuan Industri Smelter Nasional
News

Mulai Bangkit! Saham-saham Produsen Nikel Mau ARA?

Mulai Bangkit! Saham-saham Produsen Nikel Mau ARA?
Setelah pada pekan lalu saham-saham pertambangan nikel merana, hari ini di awal bulan Februari, saham emiten nikel mulai rebound dan melesat tinggi.

Simak pergerakan harga saham emiten nikel pada penutupan sesi I hari ini.


Terpantau 5 dari 6 emiten pertambangan nikel pagi ini ditransaksikan di zona hijau, bahkan ada yang melesat hingga mencapai 8% lebih pada penutupan sesi pertama hari ini.

Saham PT Timah Tbk (TINS) menjadi saham emiten nikel yang penguatannya paling tajam dan menduduki posisi pertama, yakni 8,28% ke posisi Rp 1.830/saham.

Nilai transaksi saham TINS pada perdagangan sesi pertama hari ini mencapai Rp 373,2 miliar dengan volume transaksi mencapai 222,5 miliar lembar saham. Investor asing pun melakukan net buy di pasar reguler sebesar Rp 31,82 miliar.

Baca: Bosan ARB, Trio Saham ANTM-INCO-TINS Ngamuk Lagi Lho!

Berikutnya di posisi kedua ada saham PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) yang terbang 7,52% ke Rp 143/saham.

Nilai transaksi saham DKFT pada perdagangan sesi pertama hari ini mencapai Rp 6 miliar dengan volume transaksi mencapai 44,3 miliar lembar saham. Asing juga melakukan net buy di saham DKFT melalui pasar reguler sebesar Rp 926,42 juta.

Sedangkan penguatan paling minor dibukukan oleh PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) yang melesat 2,21% ke Rp 1.155/saham.

Adapun nilai transaksi saham NIKL mencapai Rp 6,8 miliar dengan volume transaksi mencapai 6,2 miliar lembar saham. Asing melakukan net buy di saham NIKL melalui pasar reguler sebesar Rp 527,05 juta.

Namun, melesatnya saham-saham nikel hari ini tidak diikuti oleh saham PT Trinitan Metals and Minerals Tbk (PURE), di mana saham PURE cenderung stagnan di levek Rp 170/saham pada penutupan sesi pertama hari ini.

Pagi tadi, IHSG dibuka melemah 0,17% ke level 5.852,43. Selang 10 menit, IHSG malah ambles 2,04% ke level 5.742,81 sebelum kemudian berupaya berbalik menguat. Volatilitas yang tinggi ini mencerminkan kekhawatiran investor akan isu fundamental perekonomian, terkait pandemi.

Namun, kejutan positif datang jelang penutupan siang. IHS Markit melaporkan aktivitas manufaktur Indonesia yang tercermin dari Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers' Index/ PMI) per Januari 2021 di angka 52,2 atau naik dari bulan sebelumnya yang sebesar 51,3.

Itu merupakan angka yang tertinggi dalam 6,5 tahun terakhir. PMI menggunakan angka 50 sebagai titik awal. Kalau sudah di atas 50, maka artinya dunia usaha sedang memasuki masa ekspansi dan sebaliknya jika di bawah itu maka masih terkontraksi.

Kejutan ini pun membangkitkan optimisme pasar bahwa dampak pandemi terhadap sektor riil semakin berkurang, meski pemerintah masih menerapkan